Menggagas Katalog

Karena siang ini saya mesti bertemu dengan Firman Djamil, mungkin berbicara tentang aktifitas masa datang. Kak Firman berada di Benteng Somba Opu rumah pangggung yang telah lama ia tinggali, sekaligus menjadi studio kreatifnya dalam explorasi seni rupa. Siang itu Cuaca panas di kota Makassar masih sama dengan hari-hari kemarin. Di bawah rumah terparkir motor matic merah miliknya, hmmm orangnya pasti ada di atas rumah, tapi mungkin lagi istirahat siang. Maklum beliau juga sehari-harinya harus mengajar seni rupa bagi anak-anak usia SMP.. Pikirku , biarlah dulu ia istirahat sambil menikmati angin sepoi di bawah rumah panggung Kak Firman. Tapi sekian lama aku menunggu tiada jua kabar berita bahwa ia akan menyambut saya, padahal saya telah mengetuk pintu rumah berkali-kali. Kuputuskan untuk bergeser dari tempat itu, entahlah saya akan menuju kemanalagi siang ini. Di atas motor kesayanganku aku memutuskan mencari secangkir kopi, wahh sepertinya enak di Toddopuli menikmati kopi sambil baca koran dan informasinya. Tak lama saya duduk di warung kopi itu, telepon genggamku berdering. Subhan menelpon dan ia juga sedang berada di Somba Opu. Wahhh terlambat Pak subhan, saya sudah bergeser dari tempat itu. Gimana kalau kita berkunjung aja ke Rumah Pohon di Gowa, tempat beberapa teman seperti Mamat, Guru Andi dan lainnya menghabiskan masa selepas kerja mereka usai.
Oh yaa Rumah pohon itu adalah rumah mungil yang terbuat dari bambu dan tiang pancangnya adalah pohon dan berada diantara rimbunan pohon juga. Mungkin karena itulah disebut rumah pohon. Saya tiba lebih awal dari subhan dan guru Andi, rencana ke rumah pohon ini sangat mendadak. Saya agak lupa tempatnya, setau saya itu adalah tanah kebun milik keluarga Teman saya Mamat Nunggeng. Saya pun segera ambil langkah praktis untuk segera melunvurkan satu pertanyaan taktis, ibu: dimana rumahnya Mamat, sang Ibu sambil menggendong anaknya: Di belakang rumah ini dek. Oh ia terimakasih ibu.
Di Rumah Pohon belum ada seorangpun disana, maklum jam masih menunjuk pada 03:40 orang-orang masih pada istirahat di rumah masing-masing,. Saya pun menengok kesamping rumah penduduk yang tak jauh dari tempat itu, dan bertanya, Benar...ini rumah pohon yachhh, oh iya nak, kata seorang bapk paruh baya sambil memegang sebilah pisau sejenis Badik senjata tradisional suku bugis makassar. sepertinya ia sedang membuatkan gagang untuk senjata tersebut. Kata bapak itu, sebentar lagi para penghuni rumah pohon itu, akan segera datang. Benar juga...tak lama Guru Andi datang dengan motor warna hitamnya. Assalamu alaikum dan segera menyodorkan tangannya, tanda silaturahmi kita harus selalu terjalin. Pa kabar nihh, kenapa baru kesini berkunjung Pak suhud, tanyanya langsung pada saya. Maklum lagi sibuk Guru... hmmmm tak ada jawaban atas pertanyaan saya, hanya dipersilahkan untuk naik di rumah pohon. 
Setelah hampir magrib semua telah pada berdatangan dan semua sudah mandi dan gagah kecuali saya dan Subhan yang masih berpenampilan seperti siang tadi. Malam hari Mamat Nunggeng pun datang, nahhh ini nih teman saya yang punya segudang buku tua terbitan lama. Buku itu adalah warisan dari ayah mertuanya dan hanya tersimpan begitu saja berteman debu. Tanya saya dan subhan: gimana kabar buku-buku lama itu. Nunggeng: yachhh sambil menghela nafas... begitulah maklum buku lama dan sangat sulit merawatnya, sebagian sudah hilang dipinjam orang, dan dimakan oleh waktu dan rayap. Subhan pun berkata lagi: alangkah bagusnya jika kumpulan buku tersebut di data dan dibuat suatu wadah agar berguna untuk nantinya dijadikan sebagi literatur pembanding. Meski ilmu dalam buku itu sebagian sudah dikembangkan di masa sekrang.Oh iya yahh pikirku sambil menatap dengan tujuan meyakinkan sang pemilik buku. Nunggen pun menyambutnya dengan positip saja. Gimana kalau besok kita segera mengerjakan tugas mulia ini ujarku kepada keduanya. Okelah kalau begitu, ditunggu kedatangannya. Sekian dululah cerita saya tentang mendiirkan katalog ini yangdiberi nama Katalog Pongmasakke. Trims ...Suhud

Categories: Share

Leave a Reply